Alasan dibalik terhambatnya Interprofessional Collaboration Perawat dengan Dokter


Kolaborasi merupakan hubungan atau proses interaksi yang terjadi antara rekan kerja, yang bekerja dalam tim kesehatan untuk mencapai tujuan bersama berdasarkan pada nilai dan prinsip yang berlaku, mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, tanggung jawab dan tanggung gugat.

 

1466056000955Brajakson Siokal, S.Kep., Ns., M.Kep

Dosen Pendidikan Ners Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan Peneliti Interprofessional Collaboration Practice di Indonesia/No. Tlp 085 242 868 145

Interprofessional collaboration practice atau yang biasa disebut IPCP merupakan kelanjutan dari interprofessional education pada tingkat pendidikan, namun IPCP menekankan kerjasama Tim dalam pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit atau di masyarakat.

Tentu saja kolaborasi di sini mengarah pada kerjasama Tim Kesehatan. Kerjasama tim (teamwork) adalah interaksi atau hubungan dari suatu tim (dua atau lebih rekan kerja), dikhususkan disini adalah anggota profesional kesehatan yang saling bergantung, berbagi informasi, sehingga dapat mengambil keputusan bersama dengan tujuan untuk memberikan layanan kesehatan kepada pasien secara optimal.

Terkadang ada perbedaan pandangan profesional kesehatan antara dokter dengan perawat dalam memahami “kolaborasi”. Perbedaan pemahaman ini biasanya terlihat cukup mencolok dalam pelayanan di rumah sakit. Dokter dapat menentukan atau memandang kolaborasi dalam perspektif yang berbeda dari perawat, ataupun sebaliknya. Ada bahkan dokter berpikir bahwa kerjasama tersirat dalam tindak lanjut sehubungan dengan mengikuti perintah atau instruksi saja daripada saling berpartisipasi secara bersama dalam pengambilan keputusan. Mungkin pelaksanaan instruksi dokter oleh perawat itulah yang dipandang sebagai kolaborasi oleh dokter sedangkan dari pihak perawat, perawat merasa mereka sedang diperintahkan untuk melakukan sesuatu.

Dijelaskan dalam suatu penelitian yang berjudul “Potensi Profesional Kesehatan dalam Menjalankan Interprofessional Collaboration Practice di Rumah Sakit tahun 2016, bahwa ada 2 (dua) hal yang menghambat kolaborasi antara perawat dengan dokter di rumah sakit yaitu pertama, masalah komunikasi dan yang kedua adalah masalah respect atau saling menghargai. Sadar atau tidak, ternyata selama ini dalam berkomunikasi antara perawat dengan dokter tidak berjalan begitu baik dan efektif. Padahal secara akademik, kedua profesional kesehatan ini sama-sama telah mempelajari komunikasi umum, komunikasi keperawatan juga komunikasi kedokteran. Bahkan lebih jauh lagi keduanya telah mempelajari komunikasi terapeutik. Komunikasi yang terapis atau memberikan manfaat yang tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada teman sejawat, atau kepada tim kesehatan lain.

Faktor komunikasi dan saling menghargai merupakan komponen penting yang diperlukan dalam berkolaborasi, itu saja tidak cukup untuk memungkinkan kolaborasi terjadi dengan baik. Gaya maupun cara berkomunikasi juga berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi dalam tim kesehatan. Secara logika, bagaimana mungkin akan terjadi kolaborasi yang baik tanpa adanya komunikasi yang baik dan saling menghargai diantara keduanya?. Hal inilah yang perlu perenungan secara bersama pada masing-masing profesianal kesehatan tersebut.

Kedua profesional kesehatan ini harus sama-sama menyadari bahwa pelayanan kesehatan kepada pasien adalah yang terpenting dan utama. Itu artinya harus sama-sama berani “melepas ego” di antara keduanya. Terkadang ada profesional kesehatan yang merasa “lebih baik” di antara profesional kesehatan yang lain. Terkadang juga merasa level profesinya lebih tinggi dibandingkan profesi yang lain.  Padahal jelas-jelas kedua profesional kesehatan ini telah memilki aturan dan ketentuan masing-masing berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Profesi Dokter mempunyai landasan hukum pada UU RI No. 29 Tahun 2004 sedangkan Profesi Perawat UU RI No.38 Tahun 2014. Walaupun kedua aturan tersebut mempunyai perbedaan awal berlakunya yang cukup mencolok, tetapi semua harus mempunyai pemahaman bahwa  semua warga negara Indonesia Wajib menjunjung tinggi hukum dan semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Itu artinya bahwa Perawat dengan Dokter sama-sama profesi kesehatan yang diakui oleh negara  dan mempunyai ketentuan hukum yang jelas.

Berdasarkan UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada BAB I Ketentuan Umum poin 11 dijelaskan bahwa Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat. Ini artinya melayani pasien atau masyarakat adalah yang utama dalam meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan UU RI No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan pada BAB I Ketentuan Umum poin 3, 4, dan 5 dijelaskan bahwa Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk Asuhan Keperawatan. Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan pasien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian pasien dalam merawat dirinya. Bahkan lebih jauh lagi dari beberapa peran,  perawat mempunyai peran kolabotor, perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, apoteker, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya atau pengambilan keputusan.

Harus diakui pelayanan kesehatan selama ini masih belum dapat berkolaborasi dan bekerjasama dengan baik, sehingga hasil yang didapat belum optimal dan akhirnya pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dalam hal ini, perlu adanya kesadaran secara bersama bahwa inovasi kesehatan berbasis patients-centered-care atau pasien adalah yang utama wajib untuk diperhatikan. Perawat dengan dokter wajib berkomunikasi dengan baik serta saling menghargai satu sama lain karena keduanya bagian dari Tim Kesehatan yang sangat penting perannya dalam pelayanan kesehatan.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam pendidikan profesi kesehatan sudah seharusnya kita harus mendukung dan ikut aktif berpartisipasi dalam penerapan sistem interprofessional collaboration practice. Sistem ini adalah sistem yang paling efektif yang dapat diimplementsikan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sehingga dengan Interprofessional collaboration akan memberikan suatu batasan terhadap wewenang profesi satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada profesi kesehatan yang merasa terdiskriminasi atau bahkan mendominasi dalam pengambilan keputusan.

Alur Simulasi Kebakaran FKM UMI

img_20160915_101504Indonesia merupakan supermarket bencana karena hampir semua jenis bencana telah terjadi seperti tsunami,gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir, pesawat jatuh, lumpur Lapindo, bom meledak akibat teroris, konflik sosial, kebakaran dan jenis bencana lainnya.
Hal ini mengakibatkan kerugian harta benda,kerusakan lingkungan, korban nyawa manusia mulai dari luka ringan,sedang bahkan kematian. Selain itu bencana yang terjadi juga mengakibatkan dampak psikologis bagi semua korban. fb_img_1473911159463
Sesuai dengan Undang-undang penanggulangan bencana, manajemen penanggulangan bencana itu sendiri terdiri dari beberapa tahap, pra bencana (mitigasi dan kesiapsiagaan), tahap bencana/impact (Tanggap Darurat) dan pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi).

img_20160915_101532Pada tahap pra bencana yang perlu dilakukan adalah mitigasi yakni berusaha menurunkan risiko bencana pada titik/daerah potensial bencana. Peringatan dini yakni membuat peraturan seperti tidak menebang pohon, tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat dan pelarangan membakar hutan. Kesiapsiagaan yaitu segala upaya yang dilakukan atau langkah-langkah tepat guna untuk mengurangi bencana seperti pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan tindakan tentang penanggulangan bencana. Penanganan Taha pra bencana ini dilakukan sebelum terjadi bencana agar semua pihak tahu dan mengerti apa yang harus dilakukan dalam mengantisipasi bencana. img_20160915_101515
Tahap kedua adalah tahap tanggap darurat atau ketika terjadi bencana. Yang perlu dilakukan adalah melakukan respons secara cepat,tepat,akurat serta aman untuk mengantisipasi bencana. Tindakan ini merupakan upaya untuk mengurangi dampak bencana itu sendiri.
Pada tahap tanggap darurat yang paling diutamakan adalah penyelamatan nyawa korban dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Pada tahap tanggap darurat semua sektor harus terlibat karena kejadian Disaster adalah tanggup jawab kita semua. Sektor yang harus terlibat adalah BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI, Kepolisian, Rumah Sakit atau Puskesmas, jenis relawan lainnya seperti PMI,BASARNAS, PLN,Pemadam kebakaran,dan lain-lain. Keterlibatan sektor ini tergantung dari jenis bencananya. Apakah bencana tipe lokal, nasional atau Internasional. Semua sektor yang terlibat akan melakukan tugasnya masing-masing. Contoh nya petugas medis lebih memprioritaskan penyelamatan nyawa manusia yang mengalami luka-luka fisik. Tak kalah pentingnya ketika bencana datang,kita harus jeli melihat gangguan psikologis. Oleh karena itu kita harus menyiapkan SDM psikolog, spesialis jiwa untuk membantu mengatasi permasalahan gangguan psikologis atau gangguan jiwa manusia korban bencana. Kordinasi, komunikasi, kolaborasi antar sektor atau pihak terlibat memiliki andil yang sangat penting dalam penanganan bencana.img_20160915_101528
Tahap yang ketiga adalah tahap pasca bencana. Pertama adalah tahap rehabilitasi dimana memperbaiki kembali kerusakan yang telah terjadi dan memperkuat atau mencegah bencana yang akan datang merupakan rekonstruksi.

Bencana tidak dapat diprediksi kapan datangnya, menimpa siapa saja dan dapat terjadi dimana saja.
Seperti gedung-gedung yang tinggi idealnya memiliki struktural/organisasi keadaan darurat dan bencana. Perlu juga menyediakan SDM yang terlatih yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab. Penyediaan sarana dan prasarana serta manajemen itu sendiri. Tak kalah pentingnya adalah komitmen dan dukungan dari pimpinan.img_20160915_101523

Pada tanggal 14 September 2016 Program Profesi Ners Fakultas Kesehatan Kesehatan Masyarakat telah mencoba melakukan simulasi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) bencana kebakaran dengan memaksimalkan kekuatan UMI mengantisipasi bencana kebakaran yang telah terjadi di fakultas perikanan dan kelautan akibat meledaknya laboratorium.1473852130546
Pada simulasi ini terjadi kordinasi dan komunikasi yang baik secara internal maupun eksternal.
Mahasiswa yang telah melihat ledakan ini berupaya mematikan api dengan menggunakan APAR (Alat pemadam Api Ringan) dan kepala Laboratorium melaporkan kejadian kepada Ketua Prodi PSIK-Ners (Ns Safruddin,S.Kep.,M.Kep dan Hj. Murtini,SKM,M.Kes). Ketua prodi yang telah menerima laporan secara cepat melaporkan kepada pelaksana tugas Dekan FKM UMI (Dr. Muhammad Ikhtiar,SKM.,M.Kes). Dekan memerintahkan kaprodi untuk menggerakkan tim bantuan reaksi cepat FKM UMI yang terdiri atas 20 prang untuk segara ke lokasi bencana kebakaran dalam hal evakuasi korban. Kemudian pelaksana tugas Dekan ini yang juga alumni program doktoral Universitas Hasanuddin menghubungi Rektor Universitas Muslim Indonesia (Prof. Hj. Masrurah Mokhtar) namun nomor telepon sedang tidak aktif. Kemudian menghubungi WR I UMI (Prof. H. Syahnur Said,SE.MS).
WR I mengangkat telepon dan menginstruksikan kepada pelaksana dekan untuk mengaktifkan siaga bencana. Pelaksana tugas Dekan menghubungi Pemadam kebakaran, security kampus, kepolisian, dan Rumah sakit UMI untuk mengantisipasi bencana kebakaran yang telah terjadi. Kurang lebih 10 menit semua pihak telah tiba di lokasi kejadian. Seperti pihak kepolisian bertugas menetapkan area Ring 1 dan melakukan pengamanan bekerja dengan security kampus. Ring 1 ini adalah daerah yang rawan apalagi dengan jenis bencana kebakaran laboratorium kimia yang boleh masuk ke Ring 1 hanya tim yang telah terlatih. Secara bersamaan Damkar UMI terus berupaya mematikan api.

1473910903717Korban dievakuasi pada satu titik sekaligus melakukan tiase bencana yakni pemilihan korban sesuai dengan tingkat kegawatannya. Yang dinilai pada saat tiase adalah Airway (melihat jalan nafas,apakah bebas atau ada sumbatan), Breathing (pernafasan) 10 kali/ permenit atau di atas dari 30 kali/menit merupakan kategori gawat darurat, menilai Circulation (CRT > 2 detik merupakan kondisi gawat darurat),menilai disability apakah pasien sadar atau tidak sadar. Penilaian kesadaran korban dengan menggunakan metode AVPU (Allert, Verbal, Pain, Unresponsible). Pengkategorian pasien tidak boleh lebih dari 2 menit. Penanda dari triase ini dengan menggunakan simbol warna dimana korban yang mengalami henti nafas dan henti jantung merupakan warna biru yang harus segera dilakukan Resusitasi jantung paru menggunakan AED atau DC Shock. Simbol warna merah juga merupakan pasien gawat darurat yakni mengalami gangguan jalan nafas, pernafasan,sirkulasi dan kesadaran merupakan prioritas pertama yang harus segera ditangani kurang dari 10 menit.Korban yang mengalami gangguan Circulation seperti perdarahan, fraktur/patah namun A,B dan C nya aman maka dikategorikan gawat tapi tidak darurat diberikan simbol warna kuning. Sedangkan korban yang luka ringan maupun tidak mengalami luka yakni aman jalan nafasnya,pernafasan,sirkulasi darah dan kesadaran diberikan label berwarna hijau yang merupakan prioritas ketika dalam penanganan. Sedangkan korban yang mengalami mati biologis diberikan label berwarna hitam. fb_img_1473911184335
Tim medis harus menempati Ring 2 dan tidak boleh masuk di Ring 1 untuk menghindari kecelakaan kerja. Pada prinsipnya tim medis harus bekerja secara aman yakni aman pasien/korban, aman lingkungan, dan aman penolong. Tim medis yang melakukan pertolongan sebaiknya tim yang sudah terlatih/memiliki sertifikat BTCLS (Basic Trauma and Cardiac Life Suport). Jumlah tim medis juga harus disesuaikan dengan jumlah korban bencana. Dalam penanganan korban bencana ini, juga harus tetap kordinasi yang baik antara insiden comandan, koordinator ambulance, tim P1, P2, P3, rumah sakit dan pihak lainnya. 1473828875140
Pada simulasi kali ini, mahasiswa profesi Ners didampingi langsung oleh tim Hipgabi Sulsel dan seluruh dosen program study ilmu Keperawatan. Karena semua dosen PSIK Ners UMI telah pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan. Bahkan beberapa Dosen mengikuti pelatihan simulasi bencana selama 2 tahun. Ketua panitia simulasi ini merupakan Trainer Emergency and Disaster dan telah mendapatkan sertifikat dari Singhealt (Singapura Healt) yang saat itu bekerjasama dengan Hasanuddin University.
Narator dari kegiatan ini adalah Ns. Akbar Asfar, S.Kep.,M.Kes. yang secara totalitas telah menjelaskan dan menginformasikan semua kondisi dan penanganan pada simulasi kali ini. Kemudian koordinator tim ambulance yang bertugas sebagai membimbing mahasiswa Ners untuk transportasi korban dari rumah sakit lapangan ke Rumah sakit UMI adalah tim Hipgabi Sulsel dan dosen PSIK Ners (Ns. Brajakson Siokal, S.Kep.,M.Kep). Alumnus dari Magister Keperawatan Unhas ini memerankan tugas nya dengan baik dan mendapatkan apresiasi dari pimpinan terutama WD 3 FKM (Andi Surahman Batara,SKM,M. Kes) yang saat ini mengikuti proses pendidikan Doktoral di Unhas Makassar.
Koordinator tim rumah sakit UMI adalah Ns Yusrah Taqiyah,M.Kes. Yang juga tim dosen Critikal Nursing dan memiliki pengalaman bekerjasama di RSWS ruangan UGD selama 2 tahun. Ns Yusrah dibantu oleh Ns Vitra Febriyanti,Ns Resky Iftitah Alam yang juga memiliki pengalaman bekerjasama di Rumah sakit kurang lebih 2 tahun, telah mengikuti pelatihan Emergency and Disaster Management, di Rumah sakit UMI juga dibantu oleh Ns Sunarti,Ns Rahmawati Ramli, Ns Fatma Jama,S.Kep.,M.Kes.Ns Rahmat,S Kep,Ns Wa Ode Asniar,S.Kep.,M.Kes.,Ns Andi Mappanganro,S. Kep.,M.Kep., Ns Suhermi,Ns Nur Wahyuni Munir. Yang bertugas sebagai koordinator dekontaminasi korban yang terkontaminasi bahan kimia adalah Ns Erna sari,S.Kep yang memang memang kompeten di bidang ini. Semua mahasiswa Ners angk. Ke 3 dan dosen PSIK Ners UMI telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya di rumah sakit dengan baik.

Ketua prodi (Hj. Murtini,SKmM,.M.Kes. dan Ns. Safruddin ,S.Kep.,M.Kep.) sekretaris prodi (Ns Tutik Agustini,S. Kep.,M.Kep), Pelaksana tugas Dekan FKM (Dr.Muhammad Ikhtiar,SKM.,M.Kes), WD II (Dr.dr.H.Muh.Khidri Alwi,S.Ked.,MA.,M.Kes), WD 3 (Andi Surahman Batara,SKM.,M.Kes) dan WD 4 (Dr. H. Nukman,MA) bertugas mengevaluasi proses berjalannya kegiatan ini dan menemani pimpinan Universitas melakukan kunjungan ke lokasi kejadian dan Rumah sakit
Alat-alat yang digunakan Padang simulasi ini adalah milik PSIK Ners FKM UMI, Higpgabi Sulsel, dinas kesehatan provinsi Sulsel,Milik pribadi pak Agus dosen pertambangan FTI UMI.fb_img_1473911223568

Yang menyediakan mengkoordinir ketersediaan alat dan bahan adalah Rita Fitriani,S.Kep.,M.Kes dan Ns Nur Ilah Padhila,S.Kep.,M.Kes.

Mobil ambulance adalah milik Baznas provinsi Sulawesi Selatan dan Fakultas Kedokteran UMI.

1473910211903

Dekan FKM Dr. H. R. Sudirman, M.Si mendukung penuh dan mendoakan kegiatan ini yang saat ini sedang melaksanakan ibadah Haji.

Koordinator Triase dan Rumah sakit lapangan adalah tim Hipgabi Sulsel dan dosen PSIK Ners FKM UMI yakni Ns Najihah, S.Kep. yang juga mahasiswa S2 keperawatan medikal bedah Unhas serta memiliki pengalaman bekerja di RSWS ruang UGD selama 2 tahun. Di RS lapangan juga dibantu oleh Ns Musfirah Ahmad,S.Kep.,M.Kep. alumni S2 keperawatan Medikal Bedah Unhas..1473910220157

Kegiatan simulasi ini dapat terlaksana dengan baik atas bantuan secara totalitas dan kerjasama oleh semua pihak pimpinan Universitas, fakultas, prodi, panitia, Hipgabi Sulsel, Dinkes provinsi Sulsel,mahasiswa profesi Ners angkatan 3, lembaga mahasiswa, media, dan lainnya.

Alasan dibalik Suksesnya Pelaksanaan Simulasi Bencana Kebakaran di FKM UMI

Pelaksanaan Simulasi Bencana Kebakaran tanggal 14 September 2016 tidak lepas dari support Rektor UMI, Wakil Rektor, Pelaksana Tugas Dekan, dan Wakil Dekan FKM. Kerjasama yang baik dalam teamwork antara Panitia Pelaksana Simulasi dengan Hipgabi Sulsel serta mahasiswa Profesi Ners UMI merupakan faktor urgent suksesnya acara ini.fb_img_1473852303625

Menurut Ketua Penitia, Ns. Sudarman, “kegiatan ini merupakan kegiatan proses Simulasi sistem penanggulangan gawat darurat terpadu bencana kebakaran yang dilakukan oleh mahasiswa Program Ners angkatan ke-3 bekerjasama dengan Tim Hipgabi Sulsel. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa FKM dalam menghadapi bencana, lanjut Ns Sudarman yang juga mahasiswa magister emergency and disaster management UNHAS.1473852130546

Dengan adanya kegiatan ini, Pimpinan FKM UMI terutama Pelaksana Dekan Dr. Muhammad Ikhtiar SKM, M.Kes dan Wakil Dekan, Andi Surahman Batara, SKM, M.Kes telah menyetujui untuk pembentukan Disaster Ners UMI. Disaster Ners UMI ini nantinya akan menjadi organisasi yang semiotonom, tetap terikat pada FKM UMI, lanjut Andi Surahman Batara yang juga kandidat Doktor di Program Doktoral UNHAS.1473852125716

 

WAJIB DISHARE AGAR BERPAHALA!__ Mari Rasakan BEDANYA berada di Emergency Cafe

Dewasa ini tentu saja telah banyak dikembangkan kafe, tempat makan atau tempat ‘nongkrong’ di Indonesia lebih khusus di Sulawesi Selatan. Namun demikian khusus untuk kafe yang mempunyai konsep dan tampilan yang berbeda hanyalah di Emergency Cafe. Nama  emergency tentu saja sangat erat kaitannya dengan dunia kesehatan atau gawat darurat. Orang akan bertanya apakah kafenya tempat atau bagian dari Rumah Sakit? atau bagian dari Instalasi Gawat Darurat (IGD)? Tentu ada kaitannya tapi jauh dari kesan menyeramkan seperti IGD atau semacamnya. Hanya saja memiliki beberapa kesamaan. Untuk kesemaannya silahkan berkunjung, lihat dan buktikan sendiri untuk memaknai kesan dari kafe ini..! Tetapi soal rasa atau nikmatnya makanannya di kafe ini jauh dari kesan emergency karena olahan bahan dan pembuatannya yang melahirkan rasa yang nikmat ditunjang oleh suasana kafenya yang  sulit terlupkan.

1466722613827

Nama Emergency berawal dari Owner yang merupakan orang yang berkecimpung dan berprofesi dalam dunia kesehatan. Karena kecintaan yang berlebih terhadap kesehatan maka mencoba diaktualisasikan dalam enterpreneur atau dunia usaha. Usaha yang digeluti oleh brother and sister dalam famaly “Siokal”. Nurasni Vita Sari Siokal dan Brajakson Siokal. Semoga menjadi awal usaha yang sukses, ladang rezeki, ibadah, pahala dan berkah untuk keluarga khususnya dan masyarakat pada umumnya. Aamiin

kafe

Brother and sister “Siokal”

Kafe ini sederhana tapi berkesan. Berkesan karena menunya yang unik dan dapatkan kemudahan-kemudahannya serta promosi diskonnya berkunjung ke sana. Kemudahan tersebut antara lain :

  1. Free WiFi
  2. Free Periksa Kesehatan
  3. Beli 5 item free 1 item menu
  4. Anda cukup membuktikan dengan share dan menunjukan artikel/berita ini dapat diskon 5 % ketika berkunjung ke sana
  5. Free ongkir dan bisa diantarkan untuk Makassar
  6. Gratis senyum dan duduk manis, hehe

Adapun menu pada Emergency Cafe mulai dari muniman hingga makanan, diantaranya Kopi Ambulance, Teh Spuit, dan lain-lain. Makanannya antara lain Nasi Goreng Perawat, Nasi goreng Dokter, Nasi Goreng Bidan dan lain-lain.

Kami yakin anda sudah PENASARAN, dan untuk membuktikannya WAJIB anda berkunjung di sana pada waktu luangnya. Khusus bulan Ramadhan ini buka dari pukul 16.00 s.d 22.00 Wita. CATAT Alamatnya! di Jalan Antang Raya No.57, tidak jauh dari Stikes Mega Rizky dan Pom Bensin Antang, persisnya satu tempat atau bersebelahan dengan Apotik ARSY FARMA. No Hp. 082292558388 atau 085242868145

Alhamdulillah belum 3 hari dibuka dan lounching sudah berkesan buat orang banyak, teman, sahabat, guru, dosen dan siapa pun anda, kami tunggu di Emergency Cafe.

Orang-orang yang telah berkunjung sudah banyak diantaranya :

kafee

Ns Darman, pemateri Emergency dan dosen Keperawatan Universitas Muslim Indonesia

 

Serunya Pengabdian Dosen UMI

Kebahagiaan yang tiada tara ketika bisa mengabdi untuk bangsa dan negara tercinta. Tanah airku Indonesia. Kampusku tercinta Universitas Muslim Indonesia.

IMG_20151203_131220

Foto bersama anggota Posko Pengabdian Dosen UMI

Tepat di sudut desa yang lumayan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.. Melihat raut wajah yang penuh tawa dan keceriaan. Kami di sini mengabdi untuk negeri dan membawa almamater UMI.

Dengan metode hipnoteaching mendidik generasi penerus bangsa. Menanamkan sugesti positif pada anak didik lebih berkesan 10 kali lipat dibandingkan metode yang lama. Mari meninggalkan metode yang lama yang penuh paksaan, bentakan dan ketegangan pada anak didik kita. Mari ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh keceriaan. Maka pembangunan karakter segera terwujud.

IMG_20151127_092035

Mengajar dengan metode Hypnoteaching

Terbukti, selang beberapa saat setelah Cracther Building di Sekolah Sekolah di Sanrobone muncullah beberapa siswa/i yang antusias untuk bergabung di UMI. Semangat Pengabdian Dosen.IMG_20151127_095717.jpg

#PengabdianDosenUMI di Sanrobone Takalar

Derita Salma yang Terindikasi Hydrocephalus

Penting tulisan ini untuk dibaca dan dishare kepada semua orang agar salah seorang yang terindikasi mengalami penyakit Hydrocephalus bisa tetangani dengan baik. Dan semoga tulisan ini juga bisa mengetuk hati Pemerintah Daerah setempat khususnya Pemerintah Kab. Gowa untuk mendengar dan merasakan keluhan warganya.
Berkat mahasiswa Prakrik Keperawatan Komunitas, Keluarga dan Gerontik di Kec.Pattalasang Kabupaten Gowa. Setelah penerimaan mahasiswa tanggal 28 Desember 2015 kemarin dan dilanjutkan dengan melakukan pengajian Keperawatan Komunitas. Praktik Keperawatan Komunitas biasa juga disebut prakrik keperawatan masyarakat. Jadi mahasiswa Keperawatan UMI angkatan 2012 langsung melakukan pengkajian kepada masyarakat dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa Keperawatan UMI melakukan pengkajian door to door atau dari rumah ke rumah dengan penuh cermat.
Berdasarkan hasil pengkajian atau hasil wawancara langsung dengan kepada salah satu Kepala Keluarga di Desa Panaikang Kec Pattalssang. Seorang mahasiswa yang bernama Gusti Ayu yang berasal dari Posko V dalam pembagian Posko mahasiswa Praktik Komunitas. Gusti melaporkan dan meceritakan kepada salah seorang Dosen Pembimbing Keperawatan UMI yang bernama Brajakson Siokal, S.Kep,Ns tentang penderitaan dari salah satu anggota keluarga di Dusun Saile Desa Panaikang tersebut.
Anggota keluarga yang mengalami penderitaan itu namanya Salmawati. Seorang anak yang masih berusia 10 tahun. Penyakit yang dialami adik Salma adalah penyakit yang terindikasi mengalami Hydrochepalus. Dialami oleh adik Salma sejak usia 5 bulan, awalnya Salma jatuh dan terbentur kepalanya berdasarkan penuturan dari ibu kandungnya.

2016-01-11_06.48.03

Adik Salma Sumber Foto dari Gusti Mahasiswa Keperawatan UMI Angkatan 2012

Berdasarkan keterangan dari keluarga Salma, kasus ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Adik Salma pernah dibawa ke Rumah Sakit setempat tetapi 2 minggu di sana Salma tidak mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius, hingga akhirnya 2 minggu berlalu di RS kesehatan adik Salma tidak mengalami perubahan apa-apa. Orang tua Salma menjadi trauma akan pelayanan kesehatan sehingga memutuskan merawatnya di rumah.
Sampai saat ini adik Salma tidak mendapatkan perawatan yang berarti padahal pemerintah dengan gencarnya memamerkan berbagai program kesehatan GRATIS dengan Pelayanan Prima. Apakah program kesehatan ini sudah behasil? kenapa masih ada adik seperti Salma yang terindikasi mengalami Hydrochepalus dan sudah 10 tahun usianya hingga saat ini dibiarkan begitu saja? Dimana tanggung jawab Pemerintah setempat?
Penulis

Brajakson Siokal

Kok, perawat mengeluh terus?

IMG_20151217_122538.jpg

Bersama Kepala Bidang Keperawatan dalan Residensi Keperawatan RSUD Syekh Yusuf Gowa

Masih banyak yang belum mengetahui tentang keluhan orang orang yang kuliah dengan jurusan ilmu keperawatan. Atau bahkan yang telah menjadi perawat baik perawat profesional maupun vokasional. Keluhannya kalau diuraikan satu per satu mungkin tidak akan ada habisnya berlembar lembar. Tapi coba dipersingkat di bawah ini :

  1. Kurangnya lapangan pekerjaan profesi perawat. Coba dijawab: sejujurnya persepsi ini bersifat subjektif. Masih banyak perawat yang justru lebih dari satu pekerjaannya selain bekerja di Rumah Sakit. Contoh ada perawat yang bekerja di klinik sambil menjadi dosen. Ada juga perawat yang bekerja di luar negeri. Maaf, bukan sebagai TKI ilegal justru perawat profesional yang bertugas menjaga lansia. Contoh ada salah satu alumni UMI atas nama Hardiman sekarang telah diterima bekerja di Jepang. Selain itu ada juga perawat yang bekerja di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan lain lain. Ada juga perawat yang membuka klinik sendiri, seperti klinik perawatan luka, hypnotherapy dan lain lain. Ada juga informasi terbaru dari Ibu Yulia Prihartini, S.Kep, Ns, M.Kep. bahwa saat ini banyak perawat perawat dari Indonesia yang justru memilih bekerja di Belanda ketimbang memilih kembali di Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya. Dan saya kira masih banyak lagi lapangan pekerjaan dari profesi perawat. Jadi hilangkan mindset ‘kerjanya perawat hanya menjadi dosen atau PNS’. Semua bergantung kepada usaha dan doa yang kita lakukan. “Where there is will, there is way….”, dimana ada kemauan di situ ada jalan.
  2. Keluahan Beban kerja yang berat. Memang bagi sebagian orang menganggap bahwa menjadi perawat bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi tetap pekerjaan yang mulia, berjasa dan berpaha yang tinggi (bagi yang bersungguh-sungguh menjalaninya). Sebenarnya walaupun telah menjadi perawat, masih banyak perawat yang belum paham jobdesnya sebagai perawat. Sayangnya kebanyakan perawat berada di garis ini. Mengeluh melakukan banyak pekerjaan setiap harinya. Sayangnya setelah disuruh menyebutkan satu per satu yang dia lakukan ternyata semua yang dia lakukan adalah bukan kewenagannya. Justru lebih kepada pelimpahan wewenang, yang seharusnya wewenang dari Profesi lain, yaitu d*kter. Jadi wajar saja kalau capek, lelah, letih dan sebagainya. Yah pada akhirnya memang akan dirasa sangat berat. Belum lagi ditambah dengan beban psikologi yang berkaitan dengan keluarga dan lain lain. Ini pernah dikeluhkan dan disuarakan oleh Pak H.Rendra Kurniawan S.Kep, Ns calon M.Kep., beliau Perawat di salah satu Puskesmas di Makassar. Saya belum mendapatkan informasinya apakah beliau sudah mendapatkan kejelasan akan tugas dan wewenangnya di Puskesmas itu atau belum. Sebenarnya pertanyaannya sudah tahu tidak kewenagan klinis perawat? Perawat tidak lagi seharusnya memasang infuse (Terapi IV), menjahit luka dan lain lain. Sejujurnya ini kewenagan klinis profesi d*okter. Boleh dibuka kembali UU Keperawatan Tahun 2014. Keluhan ini juga pernah diutarakan oleh ibu Rochfika Arsid,S.Kep,Ns,M.Kes,Sp.Kv sewaktu beliau bersamaan menguji ujian proposal penelitian mahasiswa tentang tindakan pemesangan infuse.
  3. Masih ada keluhannya? Boleh disampaikan di kolom komentar..

 

Penulis

Daeng Nai (Dosen UMI)