Alasan dibalik terhambatnya Interprofessional Collaboration Perawat dengan Dokter


Kolaborasi merupakan hubungan atau proses interaksi yang terjadi antara rekan kerja, yang bekerja dalam tim kesehatan untuk mencapai tujuan bersama berdasarkan pada nilai dan prinsip yang berlaku, mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, tanggung jawab dan tanggung gugat.

 

1466056000955Brajakson Siokal, S.Kep., Ns., M.Kep

Dosen Pendidikan Ners Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dan Peneliti Interprofessional Collaboration Practice di Indonesia/No. Tlp 085 242 868 145

Interprofessional collaboration practice atau yang biasa disebut IPCP merupakan kelanjutan dari interprofessional education pada tingkat pendidikan, namun IPCP menekankan kerjasama Tim dalam pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit atau di masyarakat.

Tentu saja kolaborasi di sini mengarah pada kerjasama Tim Kesehatan. Kerjasama tim (teamwork) adalah interaksi atau hubungan dari suatu tim (dua atau lebih rekan kerja), dikhususkan disini adalah anggota profesional kesehatan yang saling bergantung, berbagi informasi, sehingga dapat mengambil keputusan bersama dengan tujuan untuk memberikan layanan kesehatan kepada pasien secara optimal.

Terkadang ada perbedaan pandangan profesional kesehatan antara dokter dengan perawat dalam memahami “kolaborasi”. Perbedaan pemahaman ini biasanya terlihat cukup mencolok dalam pelayanan di rumah sakit. Dokter dapat menentukan atau memandang kolaborasi dalam perspektif yang berbeda dari perawat, ataupun sebaliknya. Ada bahkan dokter berpikir bahwa kerjasama tersirat dalam tindak lanjut sehubungan dengan mengikuti perintah atau instruksi saja daripada saling berpartisipasi secara bersama dalam pengambilan keputusan. Mungkin pelaksanaan instruksi dokter oleh perawat itulah yang dipandang sebagai kolaborasi oleh dokter sedangkan dari pihak perawat, perawat merasa mereka sedang diperintahkan untuk melakukan sesuatu.

Dijelaskan dalam suatu penelitian yang berjudul “Potensi Profesional Kesehatan dalam Menjalankan Interprofessional Collaboration Practice di Rumah Sakit tahun 2016, bahwa ada 2 (dua) hal yang menghambat kolaborasi antara perawat dengan dokter di rumah sakit yaitu pertama, masalah komunikasi dan yang kedua adalah masalah respect atau saling menghargai. Sadar atau tidak, ternyata selama ini dalam berkomunikasi antara perawat dengan dokter tidak berjalan begitu baik dan efektif. Padahal secara akademik, kedua profesional kesehatan ini sama-sama telah mempelajari komunikasi umum, komunikasi keperawatan juga komunikasi kedokteran. Bahkan lebih jauh lagi keduanya telah mempelajari komunikasi terapeutik. Komunikasi yang terapis atau memberikan manfaat yang tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada teman sejawat, atau kepada tim kesehatan lain.

Faktor komunikasi dan saling menghargai merupakan komponen penting yang diperlukan dalam berkolaborasi, itu saja tidak cukup untuk memungkinkan kolaborasi terjadi dengan baik. Gaya maupun cara berkomunikasi juga berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi dalam tim kesehatan. Secara logika, bagaimana mungkin akan terjadi kolaborasi yang baik tanpa adanya komunikasi yang baik dan saling menghargai diantara keduanya?. Hal inilah yang perlu perenungan secara bersama pada masing-masing profesianal kesehatan tersebut.

Kedua profesional kesehatan ini harus sama-sama menyadari bahwa pelayanan kesehatan kepada pasien adalah yang terpenting dan utama. Itu artinya harus sama-sama berani “melepas ego” di antara keduanya. Terkadang ada profesional kesehatan yang merasa “lebih baik” di antara profesional kesehatan yang lain. Terkadang juga merasa level profesinya lebih tinggi dibandingkan profesi yang lain.  Padahal jelas-jelas kedua profesional kesehatan ini telah memilki aturan dan ketentuan masing-masing berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Profesi Dokter mempunyai landasan hukum pada UU RI No. 29 Tahun 2004 sedangkan Profesi Perawat UU RI No.38 Tahun 2014. Walaupun kedua aturan tersebut mempunyai perbedaan awal berlakunya yang cukup mencolok, tetapi semua harus mempunyai pemahaman bahwa  semua warga negara Indonesia Wajib menjunjung tinggi hukum dan semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Itu artinya bahwa Perawat dengan Dokter sama-sama profesi kesehatan yang diakui oleh negara  dan mempunyai ketentuan hukum yang jelas.

Berdasarkan UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada BAB I Ketentuan Umum poin 11 dijelaskan bahwa Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat. Ini artinya melayani pasien atau masyarakat adalah yang utama dalam meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan UU RI No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan pada BAB I Ketentuan Umum poin 3, 4, dan 5 dijelaskan bahwa Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat dalam bentuk Asuhan Keperawatan. Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat dengan pasien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian pasien dalam merawat dirinya. Bahkan lebih jauh lagi dari beberapa peran,  perawat mempunyai peran kolabotor, perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, apoteker, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya atau pengambilan keputusan.

Harus diakui pelayanan kesehatan selama ini masih belum dapat berkolaborasi dan bekerjasama dengan baik, sehingga hasil yang didapat belum optimal dan akhirnya pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dalam hal ini, perlu adanya kesadaran secara bersama bahwa inovasi kesehatan berbasis patients-centered-care atau pasien adalah yang utama wajib untuk diperhatikan. Perawat dengan dokter wajib berkomunikasi dengan baik serta saling menghargai satu sama lain karena keduanya bagian dari Tim Kesehatan yang sangat penting perannya dalam pelayanan kesehatan.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam pendidikan profesi kesehatan sudah seharusnya kita harus mendukung dan ikut aktif berpartisipasi dalam penerapan sistem interprofessional collaboration practice. Sistem ini adalah sistem yang paling efektif yang dapat diimplementsikan dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sehingga dengan Interprofessional collaboration akan memberikan suatu batasan terhadap wewenang profesi satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada profesi kesehatan yang merasa terdiskriminasi atau bahkan mendominasi dalam pengambilan keputusan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s